Jumat, 04 Januari 2013
LAGU UNTUK GAZA
Beikut ini adalah Lagu We Wlill Not Go Down bersama terjemahannya yg saya dapatkan dari berbagai sumber
WE WILL NOT GO DOWN
Written by Micheal Heart
A blinding flash of white light
lit up the sky over Gaza tonight
People running for cover
not knowing whether they’re dead or alive
They came with their tanks and their planes
with rapid chain firy flames, nothing remains
Just the voice rising up in the smoky haze
We will not go down in the night without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
but our spirit will never die
We will not go down, Gaza tonight
Women children ‘n the like
murder and massacre night after night
While the so called the inners of countries so far
debating on whose run the right
But the powerless world were in vein
and the boms fell down like acid rain
But through the tears, the blood, and the pain
you can still hear that voice through the smokey haze
We will not go down in the night without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
but our spirit will never die
We will not go down, Gaza tonight
We will not go down in the night without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
but our spirit will never die
We will not go down in the night without a fight
We will not go down, Gaza tonight
KAMI TIDAK AKAN MENYERAH
diterjemahkan maknawi oleh Abdurrahman Suparno
Kilatan cahaya putih yang membutakan mata
Malam ini membelah langit di atas Gaza
Orang-orang berlarian mencari perlindungan
Tidak tahu apakah masih akan hidup atau segera mati
Musuh datang dengan tank-tank dan pesawat tempur
menghambur rentetan tembakan dan kobaran api perang, tiada lagi yang tersisa
Hanya pekik merdeka yang membahana dari balik kabut berasap jingga
Kami tidak akan menyerah sebelum benar-benar kalah
Kau dapat membakar masjid2 kami, rumah2 kami, dan sekolah2 kami
Tapi semangat kami tidak pernah akan mati
Gaza, malam ini kami tidak akan menyerah
Para wanita, anak-anak dan kaum lemah
dibunuh dan dibantai malam demi malam
Sementara negara2 tetangga hanya berdebat
tentang siapa yang benar
Dunia yang tak berdaya merasa perih
sedang bom2 terus berjatuhan bagaikani hujan asam
Namun melalui air mata, melalui darah dan kepedihan
Kau masih bisa dengar pekik merdeka itu, dari balik kabut berasap jingga
Kami tidak akan menyerah sebelum benar-benar kalah
Kau dapat bakar masjid2 kami, rumah2 kami, dan sekolah2 kami
Tetapi semangat kami tidak pernah akan mati
Gaza, malam ini kami tidak akan menyerah
Kami tidak akan menyerah sebelum benar-benar kalah
Kau dapat bakar masjid2 kami, rumah2 kami, dan sekolah2 kami
Tetapi semangat kami tidak pernah akan mati
Kami tidak akan menyerah sebelum benar-benar kalah
Gaza, malam ini kami tidak akan menyerah
Kamis, 03 Januari 2013
KASIHILAH IBUMU SELAGI MASIH HIDUP
"Bisa saya melihat bayi saya?" pinta seorang ibu yang baru melahirkan penuh kebahagiaan. Ketika gendongan itu berpindah ke tangannya dan ia membuka selimut yang membungkus wajah bayi lelaki yang mungil itu, ibu itu menahan nafasnya. Dokter yang menungguinya segera berbalik memandang ke arah luar jendela rumah sakit. Bayi itu dilahirkan tanpa kedua belah telinga! Waktu membuktikan bahwa pendengaran bayi yang kini telah tumbuh menjadi seorang anak itu bekerja dengan sempurna.
KASIH IBU
Hanya penampilannya saja yang tampak aneh dan buruk. Suatu hari anak lelaki itu bergegas pulang ke rumah dan membenamkan wajahnya di pelukan sang ibu yang menangis. Ia tahu hidup anak lelakinya penuh dengan kekecewaan dan tragedi. Anak lelaki itu terisak-isak berkata, "Seorang anak laki-laki besar mengejekku. Katanya, aku ini makhluk aneh." Anak lelaki itu tumbuh dewasa. Ia cukup tampan dengan cacatnya. Ia pun disukai teman-teman sekolahnya. Ia juga mengembangkan bakatnya di bidang musik dan menulis.
Ia ingin sekali menjadi ketua kelas.
Ibunya mengingatkan, "Bukankah nantinya kau akan bergaul dengan remaja-remaja lain?" Namun dalam hati ibu merasa kasihan dengannya. Suatu hari ayah anak lelaki itu bertemu dengan seorang dokter yang bisa mencangkokkan telinga untuknya. "Saya percaya saya bisa memindahkan sepasang telinga untuknya. Tetapi harus ada seseorang yang bersedia mendonorkan telinganya," kata dokter. Kemudian, orangtua anak lelaki itu mulai mencari siapa yang mau mengorbankan telinga dan mendonorkannya pada mereka. Beberapa bulan sudah berlalu. Dan tibalah saatnya mereka memanggil anak lelakinya, "Nak, seseorang yang tak ingin dikenal telah bersedia mendonorkan telinganya padamu. Kami harus segera mengirimmu ke rumah sakit untuk dilakukan operasi. Namun, semua ini sangatlah rahasia." kata sang ayah. Operasi berjalan dengan sukses. Seorang lelaki baru pun lahirlah. Bakat musiknya yang hebat itu berubah menjadi kejeniusan. Ia pun menerima banyak penghargaan dari sekolahnya.
Beberapa waktu kemudian ia pu menikah dan bekerja sebagai seorang diplomat.
Ia menemui ayahnya, "Yah, aku harus mengetahui siapa yang telah bersedia mengorbankan ini semua padaku. Ia telah berbuat sesuatu yang besar namun aku sama sekali belum membalas kebaikannya." Ayahnya menjawab, "Ayah yakin kau takkan bisa membalas kebaikan hati orang yang telah memberikan telinga itu." Setelah terdiam sesaat ayahnya melanjutkan, "Sesuai dengan perjanjian, belum saatnya bagimu untuk mengetahui semua rahasia ini." Tahun berganti tahun. Kedua orangtua lelaki itu tetap menyimpan rahasia. Hingga suatu hari tibalah saat yang menyedihkan bagi keluarga itu. Di hari itu ayah dan anak lelaki itu berdiri di tepi peti jenazah ibunya yang baru saja meninggal. Dengan perlahan dan lembut, sang ayah membelai rambut jenazah ibu yang terbujur kaku itu, lalu menyibaknya sehingga tampaklah bahwa sang ibu tidak memiliki telinga. "Ibumu pernah berkata bahwa ia senang sekali bisa memanjangkan rambutnya," bisik sang ayah. "Dan tak seorang pun menyadari bahwa ia telah kehilangan sedikit kecantikannya bukan?" Kecantikan yang sejati tidak terletak pada penampilan tubuh namun di dalam hati. Harta karun yang hakiki tidak terletak pada apa yang bisa terlihat, namun pada apa yang tidak dapat terlihat.
Cinta yang sejati tidak terletak pada apa yang telah dikerjakan dan diketahui, namun pada apa yang telah dikerjakan namun tidak diketahui. "Kasihilah ibumu selagi ia masih hidup. Tidak ada kasih dan cinta yang lebih dari segalanya selain kasih dan cinta seorang ibu untuk anaknya. Ibumu akan berbuat apa saja untuk melindungi dan menolong engkau saat dalam bahaya"."Sekali lagi, kasihilah ibumu selagi ia masih hidup. Esok mungkin terlambat" (dari berbagai sumber internet)
Selasa, 01 Januari 2013
KISAH SEORANG RAJA DAN HAMBA ALLOH :
Ada seorang raja yang memimpin suatu negeri. Raja ini memiliki seorang pembantu yang jika ia terkena musibah, ia selalu berkata “Al Khair Mukhtarallah” (Yang terbaik adalah pilihan Allah). Suatu hari Raja tersebut makan. Kemudian salah satu jarinya terpotong pisau. Spontan pembantunya berkata “Al Khair Mukhtarallah” (Yang terbaik adalah pilihan Allah). Mendeng
ar perkataan itu, sang Raja pun marah dan murka kepada pembantunya. Akhirnya pembantunya dijebloskan ke dalam penjara. Tatkala akan dimasukkan ke dalam penjara, pembantunya berkata lagi ; “Al Khair Mukhtarallah” (Yang terbaik adalah pilihan Allah). Sang Raja pun semakin murka kepadanya.
Hari pun berlalu. Sang Raja pergi berburu bersama pengawal dan anak buahnya hingga mereka keluar dari wilayah kerajaannya. Tiba-tiba mereka bertemu orang-orang penyembah Api dan Dewa (kaum Majusi). Mereka pun menangkap sang Raja beserta rombongannya guna dijadikan persembahan untuk dewa mereka. Satu per satu mereka dibunuh hingga tibalah giliran sang Raja.
Tatkala raja tersebut akan dipenggal, salah seorang kaum Majusi itu melihat jari sang Raja yang terpotong. Suatu persembahan haruslah sempurna sementara ada cacat dalam tubuh sang Raja. Akhirnya sang Raja tidak jadi dibunuh dan ia dikeluarkan dalam keadaan hidup.
Sang Raja pun gembira luar biasa. Ia segera teringat pembantunya yang ia penjara. Raja pun kembali ke istananya dan bertemu pembantunya untuk membebaskannya. Setelah ia bebaskan, masih ada satu pertanyaan yang mengganjal dalam hati Raja. Ia pun bertanya kepada pembantunya:
Mengapa ketika kamu dipenjara, kamu mengatakan ; “Al Khair Mukhtarallah” (Yang terbaik adalah pilihan Allah) ?
Pembantunya menjawab ; “Jika aku tidak dipenjara, mungkin aku sudah dibunuh seperti pengawal dan anak buah tuan di luar sana” (dari berbagai sumber kisah islami)
Minggu, 30 Desember 2012
KU-TANGISI HARI-HARI-KU YANG SIA-SIA
Wajah saudariku memucat, tubuhnya mengering. Meskipun begitu, ia tetap selalu membaca al-Qur’an. Jika engkau mencarinya, ia akan senantiasa rukuk, sujud, dan menengadahkan kedua tangannya ke langit. Begitulah yang selalu ia lakukan, baik di pagi hari, sore, bahkan tengah malam tanpa jemu. Sementara itu, aku lebih suka membaca majalah sastra dan buku cerita, atau menonton video. Kewajibanku terbengkalai, bahkan shalatku berantakan. Kendati video sudah kumatikan, tapi aku masih asyik menonton film selama tiga jam berturut-¬turut. Nah, kini adzan berkumandang di mushalla dekat rumahku. Aku kembali ke tempat tidur. Suara saudariku terdengar memanggilku dari mushalla.
“Ya, apa yang engkau inginkan, Naura?” kataku.
Dengan suara datar saudariku bilang, “Jangan dulu tidur sebelum shalat subuh.”
Oh, satu jam lagi baru shalat subuh, karena yang kudengar kali ini baru adzan pertama. Dengan suara yang lembut -begitulah kebiasaan saudariku, bahkan sebelum menderita penyakit ganas yang jatuh terbaring di ranjang- saudariku memanggilku, “Kemarilah, Hanna, duduklah di dekatku.”
Aku tidak kuasa menolak permintaannya. Engkau pun juga pasti begitu. Jika merasakan ketulusan dan kejernihannya, engkau akan tunduk memenuhi ke inginannya.
“Ada apa, Naura?” kataku.
“Duduklah!”
“Ini aku sudah duduk, ada apa?” desakku.
Dengan suara yang merdu dan welas asih saudariku membacakan ayat Al-Qur’an,
“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati, dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu” (Ali ‘Imran: 185).
Sejenak ia terdiam. Setelah itu, ia bertanya kepadaku, “Bukankah engkau percaya pada kematian?”
“Ya, aku percaya,” jawabku.
“Bukankah engkau percaya kalau setiap amalmu kelak akan dihisab, baik yang kecil maupun yang besar?”
“Ya, tetapi Allah Maha Penyayang dan perjalanan masih panjang,” jawabku.
“Saudariku, apakah engkau tidak khawatir kematian datang secara tiba-tiba? Lihatlah Hindun lebih muda darimu, ia meninggal dunia karena kecelakaan. Lihatlah si ini dan ini. Kematian tidak mengenal usia.”
Dengan suara ketakutan, karena suasana gelap di mushalla, aku berkata, “Aku sudah takut pada kegelapan. Sekarang engkau menakut-nakutiku dengan kematian. Kalau begitu, bagaimana aku bisa tidur? Kukira engkau ingin memberitahuku bisa ikut pergi bersama kami di liburan ini.”
Tiba-tiba suara saudariku kertak-kertuk di teng gorokan. Hatiku begidik. Ia berkata, “Mungkin tahun ini aku akan pergi jauh, ke tempat yang berbeda. Bisa jadi begitu, Hanna. Usia itu di tangan Allah.”
Setelah berkata demikian, saudariku menangis. Aku mulai memikirkan penyakit ganas yang ia derita. Diam-diam dokter memberi tahu ayahku bahwa karena penyakit yang diderita, usia saudariku tidak lama lagi. Tetapi, siapa yang membocorkan hal itu pada saudariku? Ataukah dig sedang merasakan hal itu?
“Apa yang engkau pikirkan?” kata saudariku membuyarkan pikiranku. “Apakah engkau kira aku berkata begitu karena aku sakit? Tidak. Bisa jadi aku hidup lebih lama daripada orang yang sehat. Dan engkau sendiri sampai kapan akan hidup? Ketahuilah, Hanna, hidup itu hanya sementara. Kemudian apa? Tiap-tiap kita akan pergi meninggalkan dunia ini; ke surga atau neraka. Tidakkah engkau mendengar firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,
”Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung” (Al Ilmran: 185).’”
“Engkau akan baik-baik saja,” kataku seraya berlari meninggalkannya. Perkataan saudariku terngiang-ngiang di telingaku.
“Semoga Allah memberikan petunjuk-Nya kepadamu. Jangan lupa shalat yang delapan di pagi hari.”
Tidak lama setelah itu, aku mendengar pintu kamarku diketuk orang. Jelas ini bukan waktunya aku bangun tidur. Kudengar isak tangisan dan gemuruh suara banyak orang. Apa yang terjadi? Oh, ternyata keadaan Naura mem buruk, ayah segera melarikannya ke rumah sakit.
Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un, ternyata tahun ini tidak jadi berangkat jalan-jalan. Tahun ini aku ditakdirkan untuk tinggal di rumah. Jam satu siang, ayah datang dari rumah sakit.
“Engkau bisa menjenguknya sekarang, ayo cepat,” kata ayah kepadaku.
Menurut ibu, suara ayah mengisyaratkan kegun dahan. Suaranya berubah. Mantel telah di tangan, lalu di mana supir? Kami pun segera meluncur ke rumah sakit. Jalan yang kami telusuri bersama supir untuk jalan-jalan biasanya tampak pendek. Tetapi, hari ini tampak panjang, bahkan sangat panjang. Di manakah gerangan keru munan orang yang membuatku menoleh kanan-kiri? Di sampingku ibuku berdoa untuk saudariku.
“Dia anak yang saleh dan taat. Aku belum pernah melihatnya menyia-nyiakan waktu,” kata ibuku lirih.
Memasuki pintu luar rumah sakit, kami menyaksikan pemandangan banyak pasien. Ada pasien yang mengerang- erang, ada korban kecelakaan, dan ada pula yang matanya cekung. Engkau barangkali tidak bisa membedakan, apakah mereka penghuni dunia atau akhirat. Sebuah pemandangan aneh yang belum pernah kusaksikan sebelumnya. Segera kami menelusuri anak tangga. Ternyata, saudariku dirawat di ruang ICU.
Seorang perawat menenangkan ibuku. Ia bilang keadaan saudariku membaik setelah sempat pingsan. Di rumah sakit itu tidak diperkenankan masuk ke ruang perawatan pasien lebih dari satu orang, apalagi ini ruang ICU. Di tengah kerumunan para dokter, melalui jendela kecil kulihat mata saudariku, Naura, melihatku. Adapun ibuku berdiri di sisinya. Dua menit kemudian, ibuku keluar karena tidak sanggup membendung air matanya. Mereka mengizinkanku masuk, asal tidak terlalu banyak berbicara dengan pasien. Dua menit sudah cukup.
“Apa kabar, Naura?” sapaku.
“Sore kemarin aku baik-baik saja.”
“Apa yang terjadi padamu?
Setelah memagang tanganku, saudariku bilang, “Sekarang, alhamdulillah aku baik-baik saja.”
“Alhamdulillah, tapi mengapa tanganmu dingin?” kataku.
Aku duduk di pinggiran dipan sembari memegangi betis Naura.
“Apakah sebaiknya jauhkan yang kiri dari yang kanan, kasihan jika engkau sampai merasa terhimpit,” kataku.
“Tidak, aku hanya memikirkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,
‘Dan bertaut betis (kiri) dan betis (kanan). Kepada Tuhanmulah pada hari itu kamu dihalau. ” (Al-Qiyamah: 29-30)
Hanna, doakanlah aku, karena mungkin sebentar lagi aku akan mengawali hari akhiratku. Perjalananku begitu jauh, tetapi bekal yang kubawa teramat sedikit.”
Mendengar perkataan saudariku, air mataku tumpah tak terasa. Aku menangis, tak peduli sedang berada di mana. Aku terus menangis. Ayah kelihatannya lebih mengkhawatirkanku daripada Naura. Memang, mereka tidak terbiasa melihatku menangis dan menyendiri di kamar seiring terbenamnya mentari di hari berkabut itu. Rumahku hening mencekam.
Anak perempuan bibiku masuk. Peristiwa begitu cepat terjadi. Orang-orang pun berdatangan. Suara menggaduh. Satu yang kutahu; Naura telah tiada. Naura meninggal dunia. Aku hampir tidak bisa membedakan siapa saja yang datang, juga tidak tahu apa yang mereka perbincangkan. Ya Allah, di manakah daku? Apa yang tengah terjadi? Aku tak berdaya, bahkan untuk menangis sekalipun. Beberapa saat kemudian, mereka memberitahuku bahwa ayah membawaku untuk mengucapkan perpisahan pada saudariku. Selain itu, mereka bilang aku menciumnya. Tidak ada yang kuingat selain satu hal, yaitu ketika aku melihatnya pucat pasi di ranjang kematian sempat membacakan ayat Al-Qur’an, ‘Dan bertaut betis (kiri) dan betis (kanan).’ Aku mulai menyadari sebuah hakikat;
‘Kepada Tuhanmulah pada hari itu kamu dihaIau.’ (AI-Qiyamah: 29-30)
Tanpa sadar, malam itu aku menengok mushalla saudariku. Saat itu aku teringat dengan siapa aku berbagi kasih sayang ibu. Aku terkenang pada orang yang turut menanggung kesedihanku. Aku teringat pada sosok yang turut menghalau dukaku. Selain itu, aku juga teringat pada orang yang memohonkan hidayah Tuhan, dan yang menumpahkan air mata sepanjang malam saat meng ajakku bicara tentang kematian dan hari penghitungan amal..
Ini malam pertama ia berada dalam kuburnya. Ya Al lah, kasihanilah ia, dan sinarilah kuburnya. Ini mushafnya, ini sajadahnya, ini … dan ini … Bahkan, ini gaun bermotif bunga yang pernah diceritakan kepadaku, ‘Gaun ini akan kusimpan buat hari pernikahanku.’ Jika teringat pada semua itu, aku tak kuasa membendung air mata pe nyesalan pada hari-hariku yang sia-sia. Aku terus menangis dan berdoa semoga Allah mengasihiku, menerima taubatku, dan memaafkanku. Aku juga berdoa semoga Allah meneguhkannya di kuburnya seperti yang sering ia mohon pada-Nya.
Entah mengapa, aku jadi bertanya-tanya pada diri sendiri, bagaimana jika yang meninggal dunia itu aku? Ke mana arah perjalananku? Karena rasa takut yang menyelimutiku, aku sengaja tidak mencari jawaban. Aku hanya menangis sedu sedan. Allahu Akbar!
Suara adzan subuh berkumandang, kali ini terasa sangat menyenangkan. Aku merasa damai dan tentram sembari mengulangi bacaan adzan. Kulipat bajuku, lalu berdiri melaksanakan shalat subuh. Aku shalat seperti or ang yang akan segera mati, sebagaimana shalat yang dilakukan saudariku sebelumnya. Jika pagi aku tidak menunggu petang, dan jika petang aku tidak menunggu pagi. [Az-Zaman al-Qadim, hal.4]
Kamis, 27 Desember 2012
KISAH NYATA : Pergi Haji Modal ‘Seratus Rupiah’
Tahun 1991, ibadah haji, ONH-nya sekitar enam juta rupiah.
Bertambah lama seiring dengan perubahan nilai tukar rupiah, ONH semakin misalnya tujuh juta, sembilan juta, dua belas juta, dua puluh satu juta, dua puluh lima juta rupiah,
Bagaimana kalau ada orang yang pergi haji dengan modal ‘seratus rupiah’ saja…?
Pada hari minggu pagi yang cerah, sep
erti biasanya saya pergi belanja di salah satu pasar. Suatu ketika saya belanja palawija pada seorang ibu setengah baya. Ada satu hal yang membuat saya terpana. Saya sangat tertarik melihat cara ibu tersebut melayani pembelinya.
Karena tertarik, maka setiap saya pergi ke pasar tersebut saya selalu memperhatikan lebih seksama lagi terhadap perilakunya. Beberapa kali saya perhatikan menjadikan saya lebih ‘penasaran’ untuk lebih mengikuti secara rutin kejadian demi kejadian yang ‘diperagakan’ oleh ibu tersebut.
Katakanlah ia bernama Ibu Asih. Apa yang dilakukannya setiap ia melayani pembelinya? Yang membuat saya kagum tiada habisnya ialah, setiap ia selesai menjual barang dagangannya, secara spontan mulutnya selalu bergumam lirih dengan ucapan “Alhamdulillah”
Apakah dagangannya laku sedikit atau laku banyak, selalu saja mulutnya bergumam alhamdulilaah sebagai ungkapan rasa syukurnya.
Yang lebih menarik lagi ialah setiap ada orang peminta-minta yang menengadahkan tangannya, tidak satupun yang tidak diberinya, demikian pula tak satupun seorang pengamen yang lewat yang tidak diberinya.
Meskipun ia sedang sibuk melayani orang-orang yang sedang membeli barang dagangannya, selalu saja ia menyempatkan tangannya untuk memberi mereka. Diambilnya uang logam seratus rupiah, yang rupanya sudah disediakan untuk orang-orang tersebut. Sayangnya saya tidak pernah bertanya kepadanya kira-kira ada berapa puluh orang dalam satu hari ia memberi orang miskin dan para pengamen tersebut .
Ini sebuah kejadian yang nampaknya biasa-biasa saja. Tetapi memiliki nilai yang sangat tinggi dalam kehidupan sosial maupun dalam kehidupan religius. Ucapan syukur beserta penghayatan dan sekaligus pengamalannya telah diperagakan oleh ibu Asih. Meskipun dengan cara sederhana dan dengan nilai rupiah yang kecil.
Hal ini sangat berbeda sekali dengan kondisi sebuah toko yang lebih besar, yang letaknya tidak seberapa jauh dari ibu penjual palawija ini.
Di depan toko itu tertempel kertas putih bertuliskan kalimat yang cukup ‘sopan’ yaitu : ‘maaf ngamen gratis’
Sebuah retorika yang cukup sopan dan lembut, tetapi jika dilihat dari sudut pandang yang lebih arif, kita bisa menyimpulkan bahwa hati dan perasaan ibu Asih jauh lebih lembut dari pemilik toko tersebut.
Saya menaksir bahwa keuntungan yang diraih oleh pemilik toko tersebut nampaknya cukup besar setiap harinya. Tetapi ia tidak mau dan tidak rela ‘berbagi rasa’ dengan para pengamen dan para pengemis, walaupun hanya seratus rupiah saja.
Sungguh sangat berbeda dengan kondisi ibu Asih, yang dagangannya jauh lebih kecil dibanding toko tersebut, tetapi ia mempunyai hati yang lembut dan rasa welas asih kepada para pengamen dan para peminta-minta.
Setelah saya amati sekian lama, hasil dari perilaku ibu Asih tersebut sungguh luar biasa. Kami perhatikan barang dagangannya bertambah lama semakin bertambah besar. Dan klimaksnya, beberapa waktu yang lalu ia dapat pergi menunaikan ibadah Haji bersama suaminya.
Dan saya pun merenung. Allah telah mengganti nilai seratus rupiah yang diperuntukkan bagi orang-orang miskin itu. Sekarang tumbuh menjadi dua buah ONH bu Asih dan suaminya. Sungguh luar biasa!
Satu lagi yang dapat saya simpulkan, bahwa ucapan alhamdulillaah di bibir ibu Asih mempunyai timbangan setara dengan lima puluh juta rupiah. Subhaanallah…
Apa janji Allah Swt ?
QS. Ibrahim : 7
“Barangsiapa yang mensyukuri nikmatKu, pasti akan Aku tambah, dan barang siapa yang lalai dan kufur terhadap nikmatKu, maka tunggulah siksaKu amatlah pedihnya ”
Melihat contoh sederhana dalam kehidupan semacam ini, sebagai orang yang beriman tentu hati kita menjadi tergerak untuk menirunya. Meniru kelemah lembutan hatinya. Meniru kepeduliannya. Meniru rasa percaya dirinya akan balasan dari Allah Swt. Dan meniru bagaimana cara mengungkapkan rasa syukurnya.
Yah, kadang-kadang manusia memang harus banyak belajar dari manusia lainnya. Bahkan dari semua peristiwa yang telah terjadi. Karena semua peristiwa yang telah terjadi di dunia ini adalah contoh berharga yang harus kita pelajari, kita baca, dan kita renungkan. Semua itu merupakan ilmu Allah yang sangat mahal nilainya.
Dengan ‘modal’ seratus rupiah, bu Asih berangkat Haji bersama suami…!
QS. Al Baqarah: 152
Maka ingatlah kepadaKu, supaya Aku juga ingat pula kepadamu, dan bersyukurlah kepadaKu, dan janganlah menjadi orang yang tidak tahu berterima kasih. (dari berbagai sumber ceritanyataislami)
Senin, 19 April 2010
Banyak Melayani Banyak Rezeki
Barangkali kita semua tahu, bahwa salah satu tugas seorang entrepreneur adalah tugas kepemimpinan. Memang idealnya, entrepreneur adalah sekaligus seorang pemimpin. Paradigma baru, pemimpin yang baik adalah pemimpin yang mampu memberikan pelayanan pada orang yang dipimpinnya atau bawahannya. Maksud saya, entrepreneur sebagai pemimpin, juga sekaligus sebagai orang yang mau melayani. Jangan sampai kemudian terbalik, bahwa pemimpin itu justru minta dilayani.
Dalam konteks inilah, barangkali kita perlu kembali menyadari, bahwa sebagai entrepreneur, apalagi yang baru saja membuka bisnis, maka sesungguhnya sangatlah perlu mengutamakan pelayanan. Misalnya, bagaimana kita melayani konsumen. Bagaimana konsumen puas dengan layanan kita. Dan, bagi kita yang memiliki perusahaan sudah relatif maju, maka konsumen biasanya diberikan pelayanan oleh karyawan kita. Sedang karyawannya dilayani oleh manajernya, dan para manajer semestinya dilayani oleh direksi. Sedangkan, direksi dilayani oleh pemilik bisnisnya.
Tentu kita akan bertanya, lantas siapa yang melayani si pemilik bisnis? Jawabannya bisa sangat banyak. Tapi yang jelas, menurut konsep melayani memang mudah diucapkan, tapi sangat berat untuk dilaksanakan.
Sebagai entrepreneur yang sudah cukup lama menggeluti dunia bisnis, pasti akan selalu berhubungan dengan banyak orang. Apalagi kita sebagai seorang pemimpin perusahaan, tentunya melayani banyak orang adalah pekerjaan yang harus dilakukan. Melayani banyak orang artinya bisnis kita jalan. Saya kira, melayani itu harus mengalahkan diri kita dulu sebelum memberikan pelayanan kepada orang lain. Melayani berarti tidak boleh pilih kasih. Pelayanan bisa berarti kita melayani orang-orang dilingkungan bisnis kita. Dan, kita tidak mungkin bekerja tanpa harus saling melayani.
Melayani bawahan berarti memberikan perhatian pada bawahan kita. Melayani manajer berarti memberikan penghargaan pada mereka. Dan, melayani konsumen adalah pekerjaan kita yang utama. Perusahaan yang ingin berkembang, maka pelayanan adalah segala-galanya. Bisnis melayani banyak orang akan mendatangkan banyak omzet.
Saya sependapat dengan Robert T. Kiyosaki, dalam bukunya yang ke-4 berjudul “Rich Kid, Smart Kid”. Dalam buku tersebut dikatakan, bahwa jika kita membangun sebuah bisnis yang melayani ribuan orang, sebagai timbal balik dari bisnis kita, maka kita akan menjadi jutawan. Nah kalau kita melayani jutaan orang, maka kita pun akan menjadi miliarder. Oleh karena itu, kita sebagai entrepreneur harus selalu siap melayani banyak orang, dan jangan alergi melakukannya. Percayalah, dengan kita semakin melayani banyak orang, maka rezeki yang datang pun semakin banyak pula.
Dalam konteks inilah, barangkali kita perlu kembali menyadari, bahwa sebagai entrepreneur, apalagi yang baru saja membuka bisnis, maka sesungguhnya sangatlah perlu mengutamakan pelayanan. Misalnya, bagaimana kita melayani konsumen. Bagaimana konsumen puas dengan layanan kita. Dan, bagi kita yang memiliki perusahaan sudah relatif maju, maka konsumen biasanya diberikan pelayanan oleh karyawan kita. Sedang karyawannya dilayani oleh manajernya, dan para manajer semestinya dilayani oleh direksi. Sedangkan, direksi dilayani oleh pemilik bisnisnya.
Tentu kita akan bertanya, lantas siapa yang melayani si pemilik bisnis? Jawabannya bisa sangat banyak. Tapi yang jelas, menurut konsep melayani memang mudah diucapkan, tapi sangat berat untuk dilaksanakan.
Sebagai entrepreneur yang sudah cukup lama menggeluti dunia bisnis, pasti akan selalu berhubungan dengan banyak orang. Apalagi kita sebagai seorang pemimpin perusahaan, tentunya melayani banyak orang adalah pekerjaan yang harus dilakukan. Melayani banyak orang artinya bisnis kita jalan. Saya kira, melayani itu harus mengalahkan diri kita dulu sebelum memberikan pelayanan kepada orang lain. Melayani berarti tidak boleh pilih kasih. Pelayanan bisa berarti kita melayani orang-orang dilingkungan bisnis kita. Dan, kita tidak mungkin bekerja tanpa harus saling melayani.
Melayani bawahan berarti memberikan perhatian pada bawahan kita. Melayani manajer berarti memberikan penghargaan pada mereka. Dan, melayani konsumen adalah pekerjaan kita yang utama. Perusahaan yang ingin berkembang, maka pelayanan adalah segala-galanya. Bisnis melayani banyak orang akan mendatangkan banyak omzet.
Saya sependapat dengan Robert T. Kiyosaki, dalam bukunya yang ke-4 berjudul “Rich Kid, Smart Kid”. Dalam buku tersebut dikatakan, bahwa jika kita membangun sebuah bisnis yang melayani ribuan orang, sebagai timbal balik dari bisnis kita, maka kita akan menjadi jutawan. Nah kalau kita melayani jutaan orang, maka kita pun akan menjadi miliarder. Oleh karena itu, kita sebagai entrepreneur harus selalu siap melayani banyak orang, dan jangan alergi melakukannya. Percayalah, dengan kita semakin melayani banyak orang, maka rezeki yang datang pun semakin banyak pula.
Rabu, 16 Desember 2009
Beternak Tawon: Omzetnya Rp 30 Juta/Bulan
Ini bisnis yang benar-benar manis. Hasilnya dijamin manis. Namanya pun madu! Tetapi, beternak tawon ternyata tak hanya menghasilkan madu.
Anda berpikir bahwa beternak tawon mesti diam di suatu tempat? Untuk skala amatiran, seperti yang dilakukan orang-orang kampung yang hanya memelihara 1 hingga 5 koloni, masing-masing dikandangkan di dalam sebuah kotak [glodhogan], memang tak perlu dibawa ke mana-mana. Tetapi, peternak tawon atau lebah profesional yang memiliki ratusan, bahkan ribuan koloni, mesti menggembalakannya, bahkan sampai ke pulau seberang.
Hariyono SE [30] menekuni bisnis ternak tawon/lebah yang dirintis orangtuanya, TS Gunawan [55], sejak 1979 lalu. Sejak kecil ia suka bermain-main dengan tawon, dan itulah yang sering membuat sang ibu jengkel karena khawatir si kecil tersengat. Seperti pepatah, ’’Bermain air basah....’’ Hariyono kecil pun berkali-kali disengat lebah. Tetapi, pengalaman disengat lebah tidak membuatnya kapok.
’’Ya, memang sering disengat. Mula-mula ya sakit dan bengkak-bengkak seperti pada umumnya orang yang kena sengat lebah. Tetapi lama-kelamaan tubuhnya membentuk semacam antibodi sehingga menjadi kebal,’’ tutur TS Gunawan yang mendampingi Hariyono saat ditemui Peduli di pusat bisnis tawon-nya Jl Raya Lawang, Malang, Jawa Timur.
Inovasi
Bahkan, setelah mengantongi ijasah sarjana dari Jurusan Akuntansi, Fakultas Ekonomi Universitas Widya Mandala Surabaya, Hariyono tetap saja memilih melanjutkan bisnis beternak tawon. Berbagai inovasi pun lahir dari pebisnis muda yang enerjik ini, yang, bahkan telah mengantongi Asean Best Executive Award 2003 – 2004 dan 2005 -2006, serta Asean Best Executive Citra Award 2006.
Salah satu inovasinya adalah memroduksi sendiri madu propolis [propolis infeksi dan propolis alergi], sebelumnya lebih dikenal sebagai produk impor yang diedarkan dengan sistem multylavel marketing [pemasaran berjenjang].
Mulai memroduksi madu propolis 1985 untuk memasok pasar luar negeri [Malaysia dan Singapura]. ’’Pada waktu itu pasar dalam negeri tampaknya memang belum mengenal produk ini,’’ tutur Hariyono, ’’karena itu kami menjualnya ke luar negri melalui agen. Maksudnya, bukan kami yang secara langsung menangani pemasaran di luar negri itu. Tetapi, kini justru pasar dalam negri lebih banyak menyerap produk ini, dan kirim ke luar negri pun tetap jalan seperti biasa.’’
Tergantung Bunga
Tawon atau lebah mendapatkan sumber makanannya dari bunga. Karena itu, beternak tawon secara profesional tidak bisa menetap hanya di satu tempat secara terus-menerus. Di mana ada banyak bunga, ke sanalah tawon itu dipindahkan. Sistem ini disebut Hariyono sebagai sistem angon atau penggembalaan. Jadi, bukan hanya bebek, kambing, atau sapi yang bisa digembalakan. Tawon pun bisa, dan bahkan harus digembalakan. Jika itik, kambing, sapi, dan sejenisnya bisanya digembalakan di sekitar kandang mereka, maka menggembalakan tawon sering harus menempuh jarak ratusan kilometer. Hariyono telah menggembalakan tawonnya di seluruh Pulau Jawa, dan bahkan juga ke Pulau Bali.
’’Jadi, begini, nggak perlu harus beli lahan. Seandainya kita nggak punya lahan pun, misalnya rumahnya di Surabaya, nggak masalah. Jadi kalau beternak lebah ini sistemnya angon [menggembala, Red] ya berpindah-pindah. Kalau pas nggak ada bunga ya pindah ke tempat lain yang ada bunganya. Sistemnya ya sewa lahan aja. Kalau musimnya bagus bisa 3 bulan, kalau musim bunga nggak bagus ya kadang hanya satu bulan saja. Kalau yang nggak ngerti mengira beternak lebah itu seperti beternak ayam. Di suatu lahan khusus, pakannya didatangkan. Lebah nggak begitu,’’ terang Hariyono.
Produk madu pun ditentukan oleh lingkungan di sekitar lahan yang disewa. Misalnya di lingkungan tanaman randu [pohon kapuk] ya madunya dinamai Madu Randu. Ada pula Madu Kelengkeng, yang harganya lebih mahal daripada Madu Randu.
Selain tergantung bunga yang diambil oleh si tawon/lebah, madu dari lanceng [lebah dari jenis kecil-kecil] harganya jauh lebih mahal ketimbang madu tawon biasa.
Jenis Lebah
Ada 3 jenis lebah yang dibudidayakan oleh Hariyono, yakni Lebah Australia, Lebah Lokal [tawon madu biasa], dan Lanceng. Lebah Australia kapasitas produksinya paling tinggi atau jumlah madunya lebih banyak, tetapi harganya juga paling murah. Sedangkan lanceng produksinya sedikit, tetapi harga madunya paling mahal. Secara pasti, menurut Hariyono produksi madu sulit dihitung karena benar-benar tergantung pada ketersediaan bunga. Tetapi kalau dikira-kira, berkisar antara 0 – 30 kg/koloni/bulan.
Jika Anda mau menyoba atau belajar beternak, beli bibitnya pun dilayani. Harganya berkisar antara Rp 15.000 – Rp 300.000 per koloni [satu kotak]. Harga itu ditentukan oleh besar-kecilnya koloni dan jenis lebahnya.
Dari menjual berbagai jenis produk dari ternak tawonnya, Hariyono bisa meraup pendapatan Rp 30 juta/bulan. Lebih dari itu, seperti diakui Hariyono, ada rasa senang ketika bisa menularkan ilmunya, terutama kepada masyarakat di sekitar lahan yang disewa, dan tak sedikit di antara mereka tertarik untukmenggeluti bisnis yang menghasilkan madu ini.
’’Kita selalu pakai tenaga-tenaga lokal di tempat kita sewa lahan, dan mereka sekaligus bisa belajar beternak tawon secara modern,’’ tutur Hariyono.
Apa sih, bedanya beternak tawon cara modern dan cara tradisional? Menurut Hariyono, yang paling prinsip adalah cara pengambilan madunya. Cara tradisional, mengambil madu dengan cara diperas, sehingga sarang lebah itu tidak bisa dimanfaatkan lagi oleh si lebah. Sedangkan cara modern mengunakan sparator, yakni alat yang bisa mengambil madu tanpa merusak sarang dengan gaya turbulensi. Setelah madu terambil, sarang itu dikembalikan lagi ke kotak pemeliharaan.
Perbedaan lainnya adalah sistem angon itu, yang merupakan tuntutan mutlak ketika jumlah koloni semakin banyak. Sebab, jika dalam kurun waktu tertentu lebah ditempatkan di lahan yang disekitarnya tidak tersedia bunga yang cukup, mereka akan berpindah sendiri ke tempat lain alias bubar! [PUR]diambil dari TV One
Anda berpikir bahwa beternak tawon mesti diam di suatu tempat? Untuk skala amatiran, seperti yang dilakukan orang-orang kampung yang hanya memelihara 1 hingga 5 koloni, masing-masing dikandangkan di dalam sebuah kotak [glodhogan], memang tak perlu dibawa ke mana-mana. Tetapi, peternak tawon atau lebah profesional yang memiliki ratusan, bahkan ribuan koloni, mesti menggembalakannya, bahkan sampai ke pulau seberang.
Hariyono SE [30] menekuni bisnis ternak tawon/lebah yang dirintis orangtuanya, TS Gunawan [55], sejak 1979 lalu. Sejak kecil ia suka bermain-main dengan tawon, dan itulah yang sering membuat sang ibu jengkel karena khawatir si kecil tersengat. Seperti pepatah, ’’Bermain air basah....’’ Hariyono kecil pun berkali-kali disengat lebah. Tetapi, pengalaman disengat lebah tidak membuatnya kapok.
’’Ya, memang sering disengat. Mula-mula ya sakit dan bengkak-bengkak seperti pada umumnya orang yang kena sengat lebah. Tetapi lama-kelamaan tubuhnya membentuk semacam antibodi sehingga menjadi kebal,’’ tutur TS Gunawan yang mendampingi Hariyono saat ditemui Peduli di pusat bisnis tawon-nya Jl Raya Lawang, Malang, Jawa Timur.
Inovasi
Bahkan, setelah mengantongi ijasah sarjana dari Jurusan Akuntansi, Fakultas Ekonomi Universitas Widya Mandala Surabaya, Hariyono tetap saja memilih melanjutkan bisnis beternak tawon. Berbagai inovasi pun lahir dari pebisnis muda yang enerjik ini, yang, bahkan telah mengantongi Asean Best Executive Award 2003 – 2004 dan 2005 -2006, serta Asean Best Executive Citra Award 2006.
Salah satu inovasinya adalah memroduksi sendiri madu propolis [propolis infeksi dan propolis alergi], sebelumnya lebih dikenal sebagai produk impor yang diedarkan dengan sistem multylavel marketing [pemasaran berjenjang].
Mulai memroduksi madu propolis 1985 untuk memasok pasar luar negeri [Malaysia dan Singapura]. ’’Pada waktu itu pasar dalam negeri tampaknya memang belum mengenal produk ini,’’ tutur Hariyono, ’’karena itu kami menjualnya ke luar negri melalui agen. Maksudnya, bukan kami yang secara langsung menangani pemasaran di luar negri itu. Tetapi, kini justru pasar dalam negri lebih banyak menyerap produk ini, dan kirim ke luar negri pun tetap jalan seperti biasa.’’
Tergantung Bunga
Tawon atau lebah mendapatkan sumber makanannya dari bunga. Karena itu, beternak tawon secara profesional tidak bisa menetap hanya di satu tempat secara terus-menerus. Di mana ada banyak bunga, ke sanalah tawon itu dipindahkan. Sistem ini disebut Hariyono sebagai sistem angon atau penggembalaan. Jadi, bukan hanya bebek, kambing, atau sapi yang bisa digembalakan. Tawon pun bisa, dan bahkan harus digembalakan. Jika itik, kambing, sapi, dan sejenisnya bisanya digembalakan di sekitar kandang mereka, maka menggembalakan tawon sering harus menempuh jarak ratusan kilometer. Hariyono telah menggembalakan tawonnya di seluruh Pulau Jawa, dan bahkan juga ke Pulau Bali.
’’Jadi, begini, nggak perlu harus beli lahan. Seandainya kita nggak punya lahan pun, misalnya rumahnya di Surabaya, nggak masalah. Jadi kalau beternak lebah ini sistemnya angon [menggembala, Red] ya berpindah-pindah. Kalau pas nggak ada bunga ya pindah ke tempat lain yang ada bunganya. Sistemnya ya sewa lahan aja. Kalau musimnya bagus bisa 3 bulan, kalau musim bunga nggak bagus ya kadang hanya satu bulan saja. Kalau yang nggak ngerti mengira beternak lebah itu seperti beternak ayam. Di suatu lahan khusus, pakannya didatangkan. Lebah nggak begitu,’’ terang Hariyono.
Produk madu pun ditentukan oleh lingkungan di sekitar lahan yang disewa. Misalnya di lingkungan tanaman randu [pohon kapuk] ya madunya dinamai Madu Randu. Ada pula Madu Kelengkeng, yang harganya lebih mahal daripada Madu Randu.
Selain tergantung bunga yang diambil oleh si tawon/lebah, madu dari lanceng [lebah dari jenis kecil-kecil] harganya jauh lebih mahal ketimbang madu tawon biasa.
Jenis Lebah
Ada 3 jenis lebah yang dibudidayakan oleh Hariyono, yakni Lebah Australia, Lebah Lokal [tawon madu biasa], dan Lanceng. Lebah Australia kapasitas produksinya paling tinggi atau jumlah madunya lebih banyak, tetapi harganya juga paling murah. Sedangkan lanceng produksinya sedikit, tetapi harga madunya paling mahal. Secara pasti, menurut Hariyono produksi madu sulit dihitung karena benar-benar tergantung pada ketersediaan bunga. Tetapi kalau dikira-kira, berkisar antara 0 – 30 kg/koloni/bulan.
Jika Anda mau menyoba atau belajar beternak, beli bibitnya pun dilayani. Harganya berkisar antara Rp 15.000 – Rp 300.000 per koloni [satu kotak]. Harga itu ditentukan oleh besar-kecilnya koloni dan jenis lebahnya.
Dari menjual berbagai jenis produk dari ternak tawonnya, Hariyono bisa meraup pendapatan Rp 30 juta/bulan. Lebih dari itu, seperti diakui Hariyono, ada rasa senang ketika bisa menularkan ilmunya, terutama kepada masyarakat di sekitar lahan yang disewa, dan tak sedikit di antara mereka tertarik untukmenggeluti bisnis yang menghasilkan madu ini.
’’Kita selalu pakai tenaga-tenaga lokal di tempat kita sewa lahan, dan mereka sekaligus bisa belajar beternak tawon secara modern,’’ tutur Hariyono.
Apa sih, bedanya beternak tawon cara modern dan cara tradisional? Menurut Hariyono, yang paling prinsip adalah cara pengambilan madunya. Cara tradisional, mengambil madu dengan cara diperas, sehingga sarang lebah itu tidak bisa dimanfaatkan lagi oleh si lebah. Sedangkan cara modern mengunakan sparator, yakni alat yang bisa mengambil madu tanpa merusak sarang dengan gaya turbulensi. Setelah madu terambil, sarang itu dikembalikan lagi ke kotak pemeliharaan.
Perbedaan lainnya adalah sistem angon itu, yang merupakan tuntutan mutlak ketika jumlah koloni semakin banyak. Sebab, jika dalam kurun waktu tertentu lebah ditempatkan di lahan yang disekitarnya tidak tersedia bunga yang cukup, mereka akan berpindah sendiri ke tempat lain alias bubar! [PUR]diambil dari TV One
Langganan:
Postingan (Atom)